Friday, October 29, 2010

Jidor Leongsari tergilas modernisasi


Kesenian Banyuwangi seakan tidak ada habisnya. Diantaranya terdapat kesenian asal desa Bagorejo yang dikenal sebagai Jidor Leongsari.Orang awam biasa menyebutnya sebagai Gandrung Jidor. Kesenian ini muncul pada tahun 1955. salah satu pencipta ide Jidor Leongsari bernama pak Jumadi (90). Orang-orang biasa menyebutnya sebagai jumadi jidor.
“Jidor Leongsari merupakan pencampuran antara tari gandrung, sinden dan shalawat atau puji-pujian.” Kata beliau. “Alat musik yang digunakan juga unik, seluruh alat musik terbuat dari kulit, seperti rebana, bedug dan kendang, alat musik tambahannya berupa biola.” Imbuhnya.
Di kesenian ini terdapat unsur islam yang masih melekat. Pada awalnya kesenian Jidor ini hanya berupa pembacaan kitab berjanji . Namun, seiring dengan perkembangan zaman, mulailah terdapat tari gandrung dan sinden. Jidor leongsari biasa dipakai sebagai hiburan oleh warga setempat.
Kesenian Jidor Leongsari ini didahului dengan tarian gandrung, lalu diteruskan oleh pembacaan puji-pujian atau shalawat lalu diakhiri oleh tarian gandrung penutup. Iring- iringan musik Jidor Leongsari berasal dari campuran dari gending-gending kusir Banyuwangi salah satunya adalah Sekar Jerang.
Biasanya Jidor Leongsari ditampilkan mulai sore hari.Satu kelompok Jidor Leongsari terdiri atas 7 orang yang bertugas memainkan alat musik, 1 orang sinden, dan 1 orang penari gandrung. Lamanya pementasan Jidor Leongsari berdurasi semalam suntuk. Penonton juga antusias menonton, itu dibuktikan dengan melihat ramainya penonton yang terus bertambah sepanjang waktu pementasan.
Kesenian Jidor Leongsari riwayatnya sekarang kurang diperhatikan. Alat-alat musiknya sudah mulai tidak ditemukan. Bahkan pak Jumadi sekarang sudah tidak punya alat musiknya. Beliau berkata, alat-alat beliau sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Terakhir kali beliau memakai alat musiknya pada tahun 1994.
Hingga pada saat ini, satu-satunya orang yang masih menyimpan alat musik Jidor Leong sari hanya pak Jumiran yang tak lain adalah tetangga dari pak Jumadi. Meski penonton pementasan Jidor leongsari masih sangat banyak, namun pementasan tersebut hanya dipentasakan di desa Bagorejo, itupun apabila ada undangan.
Kini di desa Bagorejo lebih sering terdapat pementasan gandrung ngesot. Gandrung ngesot sendiri adalah sebuah kesenian layaknya jidor leongsari tetapi gandrung yang dimaksud disini adalah seorang sinden. Seiring dengan berkembangnya jaman, nama leongsari kini lebih dikenal orang-orang dengan sebutan campur sari yang hanya sebuah musik tanpa disertai dengan tarian, maupun puji-pujian. Pak Jemadi pun beharap pada para generasi muda agar selalu menjaga persatuan sehingga kesenian tradisional pun tidak turut terpecah dan akan tetap utuh.

No comments:

Post a Comment